Sajak ini telah lama kehilangan
nilai puitika, estetika dan sublimatika sebab dengan nilai-nilai keindahan dan
kehaluslembutan tidaklah menjadikan seseorang seperti penguasa penindas dan
koruptor akan tersentuh hatinya.
Apalagi merasa malu dan
introspeksi sebaliknya akan membuat mereka ambisi untuk menindas, menghidup
suburkan pencuri.
Jadi inilah sajak terang
benderang seperti bendera dikibas angin di udara terbuka, merdeka.
Sajak tanpa tawar menawar bebas
dan sebebas-bebasnya memilih kata, tidak seperti kalian yang memilih cara
bergaya dan mengelabui diri sendiri atau orang lain untuk menutupi kebodohan,
kebobrokan nilai pribadi yang telah menghisap-sedot-habisi darah rakyat
sendiri.
Inilah sajak bebas tanpa alamat
surat, pedas untuk para pengkhianat yang tidak akan pernah hilang tujuan
kekuasaan yang tidak berpihak pada rakyat, serta penderitaan yang mereka
sandang akibat baju demokrasi yang dilipat.
Yogyakarta 1989